Slider[Style1]

Index :. Berita Terbaru

VIEW ALL

Lumbung Pangan

Lumbung Energi

Pendidikan, Kesehatan & Olahraga

Ekonomi Religi Budaya

Puting Beliung Melanda Temayang kerugian ratusan Juta.

kimtugu pahlawan.com -  sejak sore hari pukul 15.00 rabu 2 desember 2015, Kecamatan Temayang telah diguyur hujan yang disertai angin puting beliung sangat lebat selama satu jam. kabar yang diterima dari masyarakat di sekitaran Temayang melanda sekecamatan, yang paling parah terdampak di Desa Temayang.

Kerusakan diantaranya Tower antena wifi milik SMA Islam Temayang dan tower antena milik kantor kecamatan yang hancur poraporanda, Juga Reklame raksasa milik Djarum di dukuh klantung Desa Temayang, juga puluhan pohonan tumbang dan puluhan rumah warga yang atap rumhnya rusak. kerusakan parah ini ditaksir mencapai ratusan juta. 

Disamping itu pemadaman total yang terjadi sejak jam 3 sore sampai jam 10 malam disebabkan disebagian wilayah terdampak puting beliung banyak ranting pohon yang menempel di kabel listrik tegangan tinggi seperti disamping masjid besar baiturrohman. 

Ketika musibah ini datang, ada hal yang harus disyukuri yaitu hujan deras, karena selama ini didaerah Temayang dilanda keringnya mata air yang berkepanjangan sehingga para petani atau warga yang sangat membutuhkan air karena di desa temayang mulai sulit untuk mendapatkan air.









Bukan hanya untuk bercocok tanam, bahkan untuk mandi saja warga desa temayang harus menghemat airnya, soalnya air sumber yang ada sudah mulai habis, memang warga sedikit lega dengan datangnya hujan  (red. / eza,Syarif)

Pelatihan Melek IT untuk Para Guru

kimtugupahlawan.com - pemandangan berbeda 1 minggu ini di gedung MI Unggulan nurul huda Temayang, karena ada Pelatihan operator komputer yang diselenggarakan untuk meningkatkan kualitas IT didaerah temayang. Pelatihan ini dimotori oleh disnakertransos kabupaten Bojonegoro.



Pelatihan ini diikuti oleh 30 audiens yang sebagian besar dari guru sertifikasi yang belum melek IT dan juga sebagian diikuti oleh guru dari Madrasah Ibtidaiyah dan guru Ra dan Paud sekecamatan Temayang, dalam hal ini panitia pelaksana yaitu arifin dari pandantoyo..

Manfaatkan Musim Kemarau Panjang Untuk Buat Sumur Bor


kimtugupahlawan.com - Pada tahun ini kemarau panjang sangat dirasakan oleh masyarakat Temayang khususnya, dengan kemarau panjang ini sumber mata air mulai menipis dan ada dibeberapa tempat sudah tidak mengeluarkan air dari sumber air tanah.


Dengan tidak mengeluarkan air dibeberapa titik didesa Temayang, dimanfaatkan oleh para pembuat sumur bor, salah satunya yang menekuni profesi ini adalah bani, banyak warga yang memesan untuk membuatkan sumur bor dan ada juga yang meminta untuk memperdalam sumur bor yang sudah ada supaya sumber mata air lebih banyak. 

Banyak sumur-sumur di Desa Temayang yang sudah di kerjakan, karena sudah menekuni profesi ini sudah puluhan tahun, diantaranya yang dikerjakan seperti sumur di pesawahan, kebun dan ada dipekarangan rumah sekitar.








bani sang tukang pembuat sumur bor ini bersama dengan rekannya sidiq memulai aktifitasnya sejak pukul 06.00 pagi sampai sore, memulai mendeteksi sumbermata air dan dilanjut dengan pengeboran, pengeboranpun dengan alat yang serba manual dan sederhana, tanpa menggunakan peralatan mesin yang serba canggih.


menurut bani disela-sela pembuatan sumur mengatakan " nggawe sumur kui butuh kesabaran super, soale angger ngebor sumur ora mesti langsung dadi, terkadang sampe ngebor peng telu lage metu sumbere seng dikarepake, koyo nggawe sumur anyar ne samping masjid iki, iki wes pindah peng telu, terakhir lagek iso metu sumbere" begitulah pernyataanya.


Kali Pacal Kering disebabkan Hulu Sungai Kehabisan Air

Kedungsumber - Debit air Kali Pacal yang mengalir di beberapa kecamatan di Kabupaten Bojonegoro mulai mengering. Penyebabnya, selain karena musim kemarau, sungai terpanjang di Temayang  ini juga disedot untuk mengairi sawah, kebun dan lain-lain

Sungai mengering tinggal terlihat sedikit air dan terlihat pasir

Air sungai dengan lebar antara 8 hingga 10 meter ini sudah hampir habis. Dangkalnya permukaan air menyebabkan lumpur halus dan pasir mulai menyembul. Kendati mulai dangkal, tapi di beberapa titik sungai kedalaman air masih antara 2 hingga 7 meter. Masyarakat setempat menyebutnya dengan istilah kedhung.

Tidak mengalirnya sungai pacal karena dari hulu sungai yang berada diwaduk pacal telah mengalami kehabisan air .Menyusutnya debit air juga terjadi di Bendungan Pacal, Kecamatan Temayang. Bendungan yang dibangun Belanda pada 1933 ini stok airnya tinggal sekitar 10,8 juta meter kubik dari kapasitas bendungan 30 juta meter kubik. Sisa air tersebut diperkirakan hanya cukup untuk dua bulan buat kebutuhan pengairan sawah-sawah di sekitarnya.

Dan jika sampai bulan November belum ada hujan, diprakirakan air yang ada diwaduk pacal tinggal sedikit, dan tengah waduk mengering dan ditumbuhi rerumputan hijau. Habisnya air diwaduk pacal tidak hanya ditahun ini saja, tapi sudah terjadi sejak beberapa tahun terakhir, dan diprakirakan menurunya debit air waduk pacal karena pendangkalan .




Suka Duka Hujan Perdana Mengguyur Temayang

Temayang - Suka duka mewarnai masyarakat Temayang dan sekitarnya dengan diguyurnya hujan sore hari ini, Rabu, 07 Oktober 2015. Ada kegembiraan tersendiri dengan datangnya hujan kemarin petang, pasalnya sejak akhir-akhir ini sumur yang ada di Temayang mulai menipis debit airnya, juga terjadi kekeringan dilahan kebun dan sawah.

Hujan Perdana Melanda Temayang


Lain halnya dengan petani tembakau, untuk saat ini merupakan panen raya tembakau. sampai berita ini diturunkan harga tembakau berkisar Rp. 1500 -1400/Kg daun basah petik. Menurut para petani harga tembakau dibawah Rp. 2000 itu sudah rugi, untuk modal awal saja belum bisa kembali, apalagi dengan datangnya guyuran hujan diprakirakan harga tembakau semakin buruk.

Disamping itu dengan datangnya hujan, didaerah temayang untuk hari ini ada sebagian masyarakat yang mempunyai hajat manten dan khitan, sangat berharap hujan ditunda dahulu, berharap hujan turun setelah acara hajatannya selesai. (KIMTP/R)




3 Dusun Di Soko Gunakan Tenaga Surya

Temayang - Sulitnya akses jalan untuk menuju ke Dusun Sekidang, Desa Soko, Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro, memaksa sebanyak 43 Kepala Keluarga(KK) di dusun tersebut harus menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk bisa menyalakan lampu. Sebab, lokasi dusun tersebut sangat sukar untuk dijangkau.




Kepala Desa Soko Kecamatan Temayang, Alek Jiantoro mengatakan jika 43 KK di Dusun Sekidang ini mulai menggunakan PLTS sejak tahun 2011 lalu. Sebelumnya, meskipun saluran listrik sudah bisa dinikmati oleh warga Dusun Sekidang,namun penggunaan listrik tersebut masih sangat terbatas dan akhirnya warga memutuskan untuk menggunakan PLTS.



"Sebelum pakai PLTS dulu ya pakai lampu teplok, ya ada saluran listrik tapi cuma cukup buat tiga lampu saja," ungkap Kades kepada blokBojonegoro.com. Sabtu(26/9/2015).



Alek menambahkan, di Desa Soko ada tiga dusun yang masih belum bisa menikmati saluran listrik secara maksimal, yakni Dusun Sekonang sebanyak 260 Kepala Keluarga(KK), Dusun Ngglingsem sebanyak 160 Kepala Keluarga(KK) dan Dusun Sekidang sebanyak 43 Kepala Keluarga(KK).



"Aliran listriknya itupun dari Kabupaten Nganjuk, karena kalau dari Bojonegoro jaraknya 40 kilometer, lebih dekat Nganjuk," tandasnya. 

Sumber : http://blokbojonegoro.com/read/article/20150926/3-dusun-di-soko-gunakan-tenaga-surya.html

Lampu Tenaga Surya Menerangi Jalan Raya Temayang KM 24-27

Temayang - Perkembangan Tekhnologi dimasa sekarang tidak hanya didunia telekomunikasi dan transportasi saja, tapi juga merambah ke fasilitas umum untuk kepentingan masyarakat. seperti contoh saat ini yang ada dipinggiran jalan raya kota maupun pelosok desa, seperti di Jalan raya Temayang - Bojonegoro KM 24-27 telah berjejeran lampu PJU tenaga surya 40 watt . 

Lampu Jalan Raya Temayang Bojonegoro

Suasana Malam Hari Lampu Tenaga Surya


Penerangan jalan lampu PJU tenaga surya 40 watt sangat membatu pada masyarakat umum, karena Jalan Raya Temayang - Bojonegoro KM 24-27 sebelum dipasang lampu tersebut sangat gelap dan rawan terjadi kecelakaan malam, berkat adanya lampu itu sangat membantu masyarakat yang lewat jalan tersebut.

Walaupun tidak seterang lampu yang dialiri listrik dari PLN, masyarakat sangat berharap kepada pemerintah dinas terkait untuk menambah lampu PJU tenaga surya 40 watt dipelosok-pelosok desa yang ada di Temayang, agar aktifitas masyarakat tidak terganggu pada malam hari (KIMTP/Abdurrouf)

Waduk Pacal Dengan Jejak Sejarah Lima Masa Pemerintahan


Bojonegoro - Abad ke-19 merupakan momentum penting bagi  perkembangan waduk di Indonesia. Pembangunan waduk di Jawa semakin meningkat sejak diterapkan Sistem Tanam Paksa pada tahun 1830 tanaman tebu menjadi salah satu komoditi yang wajib ditanam oleh rakyat dan gula mendapat tempat yang sangat bergengsi di Hindia-Belanda. Penanaman tebu di daerah Jawa Timur yaitu Pasuruan, Surabaya dan Besuki.  

Meskipun begitu di Bojonegoro selatan tepatnya di daerah Kapas, Ngasem dan Kedungadem terdapat perkebunan tebu sebagai komoditi wajib yang harus ditanam oleh rakyat. Didaerah tersebut gula mendapat tempat yang sangat bergengsi, terbukti dalam tahun 1928 menghasilkan 1/6 dari seluruh  penerimaan gula yang ada di Jawa Timur.


Selain itu di Bojonegoro terdapat komoditi andalan untuk tanam paksa yaitu tembakau jenis virginia. Musim kemarau panjang tahun 1905-1906 di daerah Jawa Timur menyebabkan kerugian yang besar  bagi pemerintah Hindia Belanda. Pemasukan kas  pemerintah Hindia Belanda berkurang disebabkan banyak lahan pertanian padi mengalami gagal panen.

Distrik terdekat yakni Bojonegoro, terganggu oleh kekeringan  pada bulan Februari dan Maret tahun 1905 yang menyebabkan kerusakan yang cukup parah terhadap  panen padi. Atas permintaan residen Fraenkel pada tanggal 18 April tahun 1905 memberikan bantuan 30.000 gulden untuk membeli dan mendistribusikan benih  jagung.



Namun tanaman jagung hasilnya juga kurang  baik karena musim kemarau panjang belum selesai di Bojonegoro. Kondisi lahan sangat kering pada bulan Juli tahun 1905 sehingga hasilnya juga tidak maksimal. Pemerintah melakukan berbagai upaya untuk menyelamatkan kerugian ini agar gagal panen tidak terulang kembali.



Pemerintah Hindia Belanda mengantisipasi hal itu dengan perluasan fasilitas irigasi di area-area perkebunan dan pembangunan infrastruktur modern jalan, rel kereta api, dan pelabuhan, yang diperlukan untuk mengangkut dengan efektif sehingga volume produk ekspor dapat meningkat cepat.


Pemerintah Hindia Belanda melakukan  pembangunan perluasan fasilitas irigasi dan pembangunan insfraskruktur modern salah satunya melalui uang hasil panen, pembayaran pajak masyarakat serta tenaga kerja rakyat secara paksa. Pembangunan fasilitas irigasi mencapai kesempurnaan jika terdapat  pembangunan waduk-waduk setiap daerah. 


Melalui kesepakatan kerja pemerintah Hindia Belanda tahun 1906 diadakan perencanaan proyek pembuatan prasarana irigasi pertanian, khususnya pembangunan waduk pada setiap daerah yang menjadi lumbung pertanian  pemerintah kolonial Hindia Belanda. Maka dari itu terdapat banyak waduk-waduk yang dibangun pada  pemerintah kolonial Hindia Belanda.


Pembangunan Waduk Pacal didasarkan pada  potensi yang dimiliki daerah Kabupaten Bojonegoro dengan mengandalkan pertanian sebagai sektor mata  pencaharian. Pembangunan Waduk Pacal dilakukan pada masa pemerintahan Hindia Belanda yang selesai  pengerjaannya pada tahun 1933. Timbulnya ide pembuatan Waduk Pacal didasarkan akan pentingnya kebutuhan air untuk  pertanian, serta pembuatan waduk-waduk kecil di daerah Bojonegoro dirasa belum mencukupi jumlah ketersediaan air yang dibutuhkan. 


Kondisi tersebut di dukung oleh  peningkatan pendapatan pada sektor pertanian setiap tahunnya. Selain itu terjadi musim kemarau panjang tahun 1905-1906 yang menimbulkan kerugian yang cukup besar.

Kondisi musim yang kurang stabil ini membuat rencana pembangunan Waduk Pacal semakin kuat. Pemerintah Hindia Belanda membangun Waduk Pacal di Desa Kedung Sumber Kecamatan Temayang karena dilihat dari kondisi geografis Kecamatan Temayang berada di daerah yang lebih tinggi dari pada daerah lainnya.

Hamparan hutan jati di Kecamatan Temayang juga dapat dimanfaatkan sebagai media penyimpan air di Waduk Pacal. Desa Kedung Sumber terdapat sungai yang dinamakan sungai Pacal yang sudah terbentuk alami diantara bukit-bukit yang ada di Kecamatan Temayang. Pembangunan waduk di Desa Kedung Sumber diharapkan tidak membutuhkan banyak biaya dan waktu serta tidak banyak tenaga kerja yang dikerahkan. 


Pembangunan waduk hanya melakukan pembendungan  pada titik-titik tertentu sesuai dengan desain rencana  pembuatan Waduk Pacal. Pembangunan dilanjutkan pada  pengerjaan bendungan pada titik Sungai Pacal. Anak Sungai Pacal dijadikan sebagai pintu keluar air pada Waduk Pacal. 


Selain itu pembangunan Waduk Pacal dilaksanakan karena lebih efektif dari pada proyek  pembangunan Lembah Sungai Bengawan Solo. Proyek  pembangunan Lembah Sungai Bengawan Solo adalah  pembangunan bendungan-bendungan pada aliran sungai Bengawan Solo. Proyek itu kurang efektif karena  pembuatan bendungan akan memerlukan banyak biaya serta jika ingin memperoleh air harus menggunakan  pompa, mengingat air berada di bawah pertanian. Harga  pompa air yang mahal membuat hanya sebagian orang yang mampu membelinya. 


Pembangunan Waduk Pacal dilatarbelakangi oleh musim kemarau yang panjang. Pada tahun 1893-1903 wilayah Bojonegoro secara luas tanpa ada irigasi  pertanian. Para petani terpaksa hidup dalam keadaan memprihatinkan disebabkan oleh gagal panen tanaman yang mereka tanam. Kondisi gagal panen disebabkan oleh kondisi cuaca yang tidak mendukung dan terdapatnya penyakit tanaman padi yaitu hama wereng.


Pada tanggal 8 Oktober 1902 pemerintah mengeluarkan surat perintah nomor 36, maka sejumlah 12 ribu gulden diberikan untuk pengerukan semua waduk yang disebutkan diatas dengan pengecualian Waduk Pandjang.


Upaya yang telah dilakukan pemerintah Hindia Belanda serta masyarakat untuk memperbaiki waduk-waduk kecil yang ada dirasa belum mencukupi kebutuhan air pertanian daerah Bojonegoro. Kondisi tersebut menyebabkan gagal panen secara terus menerus dari tahun 1902-1923. Pada tahun 1923 rakyat terus menerus mengalami gagal panen dan kondisi kelaparan, misalnya  pada tahun 1923 ketika terjadi musim hujan  berkepanjangan yang diikuti dengan musim kering yang  panjang mengakibatkan kegagalan panen 41.694 bau lahan padi. 

Residen Rembang Hildering tahun 1923 mengusulkan bahwa hal-hal seperti kekeringan yang  berkepanjangan dapat membaik jika skema Lembah Solo diselesaikan atau jika ini secara finansial tidak mungkin maka sejumlah tambahan waduk harus dibangun di Sungai Patjal (Pacal), Kerdjo, Tjawak, Tidoe, Korgan, dan Kedongtawang.


Keluhan Residen Rembang mengenai keadaan  buruk yang berkelanjutan dari penduduk Bojonegoro tampaknya mendapat perhatian menteri negara-negara  jajahan. Welter salah satu menteri jajahan Hindia Belanda dalam sebuah kiriman kilat ke Gubernur Jenderal Fock tertanggal 17 November 1925 yang isinya sebagian besar bahwa penanaman padi penting karena tanaman tersebut tergantung sepenuhnya pada keadaan cuaca.


Panen yang buruk berarti penurunan ekonomi dan berpengaruh pada pendapatan. Jendral Fock  berpendapat bahwa senang jika draf anggaran untuk tahun 1926 mencakup sebuah rencana umum untuk  pengembangan ekonomi wilayah Bojonegoro. Pendapat dari pihak kementerian adalah sebuah pukulan tajam kepada birokrasi kolonial yang dinilai lamban bekerja. Pada tanggal 30 Agustus 1927  pemerintah kolonial menyetujui pembangunan Waduk Pacal dengan perkiraan total biaya 1,2 juta gulden dimana 37.000 gulden oleh pemerintah disediakan dalam bentuk material bangunan, seperti misalnya kayu, batu serta  besi-besi. 1.163.000 gulden diperoleh dari pengutan pajak  penduduk pribumi. 


Pembangunan tidak hanya pada Waduk Pacal saja melainkan waduk-waduk lain yang terdapat di Pulau Jawa yang diusulkan oleh pendapat  pihak kementerian Hindia Belanda. Kritik dan saran dari kementrian ini pada akhirnya memiliki momentum serta hasil yang bijak dan memperoleh hasil. Tenaga kerja pembangunan waduk dilakukan oleh para pekerja paksa pribumi yang dinamakan kerja rodi Kebanyakan para pekerja adalah masyarakat Bojonegoro serta terdapat pekerja dari wilayah sekitar Bojonegoro yaitu Blora, Tuban dan Babat. 


Struktur panitia pembangunan Waduk Pacal di  bentuk sesuai perubahan struktur pemerintahan karesidenan yang ada. Sebelumnya Bojonegoro dibawah Karesidenan Rembang, kemudian telah berdiri sendiri sebagai karesidenan. Dengan status baru ini Kabupaten Bojonegoro memiliki beberapa struktur jabatan baru yang sebelumnya tidak ada. Struktur pemerintahan beserta nama-nama pejabatnya sebagian besar masuk dalam  panitia pembangunan Waduk Pacal. Pembentukan struktur panitia di mulai pada tahun 1927 ketika Residen Bojonegoro C. E. Croes mulai menjabat. 


Melalui Verslag Over de Burgerlijke Openbare Werken Over Het Jaar 1927 sebuah laporan Gubernur Jawa Timur W.Ch. Handerman menunjuk Residen Bojonegoro untuk mengawasi pembangunan Waduk Pacal. Penunjukan Residen C. E. Croes ini merupakan  pemberian wewenang penuh untuk membentuk struktur  panitia pembangunan sesuai apa yang di harapkan. 


Bahwa Gubernur Jenderal Fock memerintah langsung kepada Residen Bojonegoro C. E. Croes melaksanakan pembangunan waduk. Pelaksanaan  pembangunan Waduk Pacal di awasi oleh Gubernur Jawa Timur W. Ch. Handerman. Di bawah Residen Bojonegoro C. E. Croes terdapat Bupati Bojonegoro Raden Tumenggung Ario Koesoemoadinegoro yang  bertugas mengumpulkan rakyat untuk di jadikan tenaga kerja untuk pembangunan waduk. Raden Tumenggung Ario Koesoemoadinegoro dibantu oleh sekretaris dan  patihnya. Sekretaris Sabardiman dan Sosrokoesoemo serta Patih Mas Kartohadiprojo berkoordinasi dengan wedana-wedana yang ada di Bojonegoro untuk mengumpulkan dana serta mencari para pekerja kasar dalam pembangunan waduk.



Kondisi Waduk Pacal

Pembangunan Waduk Pacal selesai  pembangunannya pada tahun 1933. Setelah selesai  pembangunan Waduk Pacal langsung dimanfaatkan untuk menampung air untuk kegiatan pertanian. Waduk Pacal memiliki wilayah yang cukup luas yaitu sebesar 3.878 Ha. Bahwa luas Waduk Pacal kira-kira sama seperti 1,5 luas Desa Kedung Sumber Kecamatan Temayang. Rata-rata kedalaman air Waduk Pacal mencapai 25 M.



 Hamparan hutan jati disekitar Waduk pacal digunakan media untuk menyimpan air. Selain merupakan waduk tadah hujan, Waduk Pacal juga memiliki sumber-sumber air mengingat kawasan Waduk Pacal terdapat di daerah pegunungan. Diantaranya adalah Gunung Pandan dan Gunung Gajah yang terletak di sebelah selatan Waduk Pacal. Gunung Pandan dan Gunung Gajah itulah asal sumber air Waduk Pacal.  Namun, sumber air tersebut dapat mengalir ke Waduk Pacal pada musim penghujan serta pancaroba. Saat musim kemarau panjang sumber-sumber air tersebut mengering begitu saja. 


Di lihat dari daya tampung air yang cukup luas,  pada tahun 1939 Waduk Pacal dapat menampung air rata-rata pada musim penghujan sekitar ± 36,5 juta M³.  Namun, pada saat musim pancaroba dengan kondisi hujan yang tidak menentu daya tampung air Waduk Pacal rata-rata sekitar ± 35 juta M³. Begitu pula pada musim kemarau panjang kondisi air Waduk Pacal sangat kering, sehingga tidak dapat mengalirkan air ke lahan pertanian. Pada tahun 1940 debit air Waduk pacal dalam  pencatatan pintu keluar air waduk pada bulan Desember, Januari, Februari, Maret mencapai 5.149.000 M³. 


Bahwa  pada bulan tersebut adalah musim penghujan pada daerah Bojonegoro.

Musim penghujan ini para petanimemanfaatkan lahan pertaniannya untuk menanam padi. 

Tanaman padi memerlukan banyak air, sehingga aliran air Waduk Pacal pada bulan itu sangat dibutuhkan. Pada  bulan April, Mei, Juni mencapai 4.128.090 M³. Pada  bulan ini adalah musim pancaroba, terjadi penurunan suplai air Waduk Pacal pada pertanian. 


Hal tersebut disebabkan para petani banyak yang menanam padi dan ada juga yang menanam palawija. Tanaman palawija cenderung kurang membutuhkan banyak air, sehingga  pada bulan itu terjadi penurunan suplai air Waduk Pacal. Disamping itu pada bulan tersebut terjadi penurunan suplai air hujan di Waduk pacal. Pada bulan Juli, Agustus, September, Oktober,  Nopember debit keluarnya air Waduk Pacal mencapai 3.761.619 M³. 


Bahwa pada bulan tersebut merupakan musim kemarau pada daerah Bojonegoro. Musim ini para  petani banyak yang memanfaatkan lahan pertanian untuk menanam tembakau. Musim kemarau pada tahun itu terjadi selama 5 bulan, terjadi penurunan suplai air Waduk Pacal disebabkan petani menanam tembakau. Tanaman tembakau cenderung tidak membutuhkan  banyak air, sehingga terjadi penurunan permintaan air di Waduk Pacal. 



Jangkauan aliran air Waduk Pacal pada dasarnya mencapai kurang dari separuh luas seluruh Kabupaten Bojonegoro. Aliran air Waduk Pacal berada di Bojonegoro sebagian daerah selatan, sebagian daerah utara serta seluruh daerah Bojonegoro bagian tengah dan timur. Pada daerah aliran air Waduk Pacal terjadi pada Kecamatan Temayang, Dander, Bojonegoro, Sugihwaras, Kapas, Balen, Sumberrejo, Kedungadem, Kepohbaru, Kanor dan Baureno. Terdapat 11 kecamatan yang di aliri oleh air Waduk Pacal. 


Sedangkan kecamatan yang tidak di aliri Waduk Pacal adalah Kecamatan Ngraho, Margomulyo, Tambakrejo, Ngambon, Bubulan, Trucuk,  Ngasem, Kalitidu, Malo, Purwosari, Padangan dan kasiman. Terdapat 12 kecamatan yang tidak di aliri oleh air Waduk Pacal. Bahwa kecamatan yang tidak di aliri air Waduk Pacal disebabkan kecamatan tersebut memiliki letak geografis yang lebih tinggi. Pada daerah Bojonegoro  bagian barat tidak di aliri air Waduk Pacal karena daerah Bojonegoro bagian barat sudah terdapat banyak sumber-sumber air. Misalnya, Kecamatan Bubulan, Ngasem,  Ngambon, Tambakrejo dan Kalitidu. 


Pada dasarnya Waduk Pacal menyumbang  peranan sebesar 35 % pada pertanian di daerah Bojonegoro. Keadaan ini dapat di lihat dari aliran air Waduk Pacal dapat mengairi pertanian Kabupaten Bojonegoro dengan luas 35 % dari keseluruhan wilayah Kabupaten Bojonegoro. Melalui dasar tersebut maka dapat disimpulkan sekitar jumlah rata-rata panen seluruh Kabupaten Bojonegoro dikurangi 35 %.


Waduk Pacal Masa Pemerintahan Hindia Belanda tahun 1933-1941




Pemerintah Hindia Belanda memperhitungkan sistem aliran air Waduk Pacal dengan matang. Kondisi tersebut dilihat aliran air Waduk Pacal utama dialirkan ke arah timur dengan setiap kawasan pertanian dibangun  bendungan besar dengan memanfaatkan aliran sungai yang sudah terbentuk. Bendungan Klepek sebagai bendungan pembagi aliran air Waduk Pacal.


Bendungan Klepek dibagi menjadi 3 aliran yaitu Pacal Kanan, Pacal Kiri dan limpasan. Pada aliran Pacal kiri aliran utama akan menuju kearah utara yang langsung menuju ke Sungai Bengawan Solo sesuai dengan jalur Sungai Pacal. Pada aliran Pacal kanan Bendung Klepek jalur utama akan menuju kearah timur yaitu Bendung Mayang Kawis yang terdapat di Desa Mayang Kawis Kecamatan Balen. Bendung Mayang Kawis membagi dua aliran yaitu ke arah utara menuju Sungai Bengawan Solo dan satunya kearah timur menuju Bendung Mekuris, Bendung Kerjo, Pada dasarnya Waduk Pacal mengairi kurang dari separuh wilayah pertanian Bojonegoro.


Pada Bojonegoro  bagian barat tidak dilalui aliran air Waduk Pacal disebabkan karena wilayah barat daya Bojonegoro memiliki kondisi geografis yang lebih tinggi dan juga terdapat sumber-sumber air yang akan langsung dialirkan kearah utara. Kondisi tersebut juga di dukung pada ketersediaan air daerah tersebut yang tercukupi. Pada tahun 1937 saluran irigasi Kanor sampai Baureno diperbaiki melalui kanalisasi sungai Ingas. Selanjutnya pembangunan tahap XIX yang mencakup  bagian utara distrik Baureno diresmikan pada tahun 1939. Waduk Pacal juga mengirimkan air ke waduk-waduk kecil di Bojonegoro, misalnya ke bagian selatan distrik Baureno sumber utama irigasi untuk Waduk Pasinan di Kecamatan Baureno.




Waduk Pacal Masa Penjajahan Jepang

Tanggal 1 Maret 1942 pasukan Jepang mendarat di beberapa tempat di Jawa yakni Banten, kota Indramayu, Kragan antara Rembang dan Tuban. Selanjutnya daerah-daerah lain secara berangsur-angsur dimasuki oleh pasukan-pasukan Jepang. Pasukan darat Jepang dengan cepat berhasil memasuki wilayah daerah Bojonegoro di Padangan pada tanggal 5 Maret 1942.


Sementara fungsi Waduk Pacal semula masa kolonial Hindia Belanda yang berguna sangat baik demi menunjang pertanian, namun saat kedatangan Jepang fungsi waduk kurang memiliki peran yang sangat berarti. Pada awal pendudukan di Indonesia Jepang masih memfokuskan pada upaya pembentukan pasukan guna menghadapi kesiapan perang Asia Timur Raya. 


Waduk Pacal Masa upaya mempertahankan kemerdekaan tahun 1945-1949 Pada Tanggal 15 Nopember 1949 terjadi  penyerahan kembali Bojonegoro oleh pejabat  pemerintahan Kabupaten Bojonegoro antara lain Bupati Raden Tumenggung Soekardi didampingi Residen Bojonegoro serta wakil dari sub Teritorium Militer Divisi I. Penyerahan kembali Bojonegoro terjadi di tempat  bekas gedung Kempetai tentara Jepang yang ada di Bojonegoro.


Isi dari penyerahan kembali Bojonegoro yakni  berupa penyerahan kekuasaan dan tanggung jawab militer dan pemerintahan Bojonegoro kepada Daerah Bojonegoro yang serah terima diwakili oleh Letnan Kolonel Soedirman selaku Komandan Brigade I Devisi I TNI dan MR. Tandiono Manoe selaku Residen Bojonegoro. 


Penjelasan isi pokok penyerahan juga memuat mengenai : 1. Pos dari tentara Belanda yang ada di Dander diserahkan kepada TNI, Pos-pos yang ditinggalkan oleh tentara Belanda diserahkan dalam keadaan baik dan bebas dari gangguan Belanda. 2. Pesawat telefoon linj militer diserahkan dalam keadaan baik. 3. Semua aset peninggalan Belanda diserahkan kepada Pemerintah Daerah Bojonegoro dalam keadaan baik dan tanpa adanya gangguan dari  pihak Belanda. Aset peninggalan tersebut adalah Waduk Pacal, Gudang-gudang penyimpanan tembakau Bojonegoro dan Tambang Minyak di Kasiman dan Malo. Tanggal 18 Desember 1949, Kabupaten Bojonegoro mulai melakukan pembangunan sesuai situasi dan kondisi Kabupaten Bojonegoro. 


Masa Demokrasi Liberal tahun 1950-1959

Bidang pertanian pada tahun 1950 di Kabupaten Bojonegoro menerapkan kebijakan pada produktivitas  pertanian, mengingat wilayah Kabupaten Bojonegoro sebagai daerah pertanian. Kehidupan penduduk tidak lepas dari agrarischatau usaha pertanian. Pemerintah daerah Kabupaten Bojonegoro  berupaya untuk membuat suatu bendungan untuk kepantingan pengairan lahan pertanian di setiap daerah, sehingga air kiriman Waduk Pacal bisa dibendung dan dapat langsung dipompa ke sawah para petani. Bendungan dibuat dengan permanen dari bahan-bahan yang baik menurut teknik.


Pembuatan bendungan dilakukan dengan kerjasama dan petunjuk dari Dinas Pengairan Kabupaten Bojonegoro. Pemerintah Daerah Kabupaten Bojonegoro dalam tahun 1950, 1951, 1952 memberikan tunjangan sebesar 10 % sampai 20 % dari APBD Bojonegoro ke desa-desa yang bersedia membuat bendungan. Jika terjadi kekurangan biaya pembangunan bendungan, rakyat setempat akan menyumbang kekurangan dana dan di kerjakan secara gotong-royong. Bendungan-bendungan ini menjadi obyek Rangkaian Kerja Indonesia dari Dinas Pertanian Rakyat.


Waduk Pacal Masa Demokrasi Terpimpin tahun 1959-1966

Pada tahun 1962 terjadi rehabilitasi parit-parit irigasi yang telah mengalami kerusakan. Kerusakan ini disebabkan oleh lamanya perawatan yang dilakukan  pemerintah daerah kabupaten Bojonegoro. Perbaikan ini dilakukan untuk menjaga kelancaran irigasi aliran air Waduk Pacal. Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro mendidik petani penggarap sawah agar mereka dapat mengolah tanah lebih sempurna. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro mendirikan organisasi tani yang dinamakan Kerukunan Tani. Dibentuknya organisasi ini diharapkan  para petani selalu bertukar pikiran memecahkan masalah  pertanian di Kabupaten Bojonegoro.


Pemerintah berusaha agar hasil kwantitas diutamakan, setelah pengutamaan kwantitas tercapai target persediaan makanan pokok selanjutnya melangkah kepada pemenuhan kualitas. Pada tahun 1960 sampai 1965 kawasan hutan “Watu Jago” Kecamatan Margomulyo, Gondang dan Desa Kedung Sumber Kecamatan Temayang mengalami kerusakan yang cukup parah. Hutan sekitar Waduk Pacal rusak karena adanya penebangan liar. Penebangan liar dilakukan oleh oknum-oknum gerakan G 30 S/PKI yang mencuri kayu. Para oknum gerakan G 30 S/PKI melakukan penebangan liar dengan tujuan merusak citra dan kewibawaan Pemerintah Republik Indonesia.


Waduk Pacal Masa Orde Baru tahun 1966-1998

 Pada tahun 1978-1983 pembangunan di sektor  pertanian pada Kabupaten Bojonegoro selalu diperhatikan yaitu faktor keterbatasan air dimusim kemarau sedangkan musim penghujan daerah aliran  bengawan solo kebanjiran


Sumber air untuk pengairan sawah tergantung pada Waduk Pacal yang airnya semata-mata berasal dari air hujan sehingga kondisi bersifat labil sekali. Perluasan areal tanaman padi tahun 1978 mencapai 50.018 Ha, pada tahun 1982 menjadi 73.769 Ha. Perluasan areal polowijo seperti jagung, ketela, sorghum dan umbi-umbian tahun 1978 mencapai 29.110 Ha, pada tahun 1982 menjadi 58.640 Ha.


Masa Reformasi tahun 1998-2000


Pada tahun 1999 permintaan kiriman air Waduk Pacal rata-rata 487.294 m³ setiap bulan. Permintaan air terjadi rata-rata sekitar 200.000 m³ dalam sekali dibukanya pintu air waduk. Namun, yang dapat diterima  biasanya 170.000 m³ untuk sekali dibukanya pintu air waduk. Karena dari setiap tahunnya Waduk Pacal mengalami penurunan jumlah daya tampung air. Hal tersebut disebabkan Waduk Pacal mengalami  pendangkalan di setiap tahunnya. 


Petugas dinas  pengairan Waduk Pacal setiap bulan harus menyerahkan laporan mengenai jumlah debit air dalam tampungan Waduk Pacal serta menyerahkan laporan air yang keluar dari Waduk pacal ke Dinas Pengairan Kabupaten Bojonegoro. Penyerahan laporan debit air terjadi tiga kali dalam sebulan. Dalam pencatatannya terdiri dari tiga golongan yaitu dalam tanggal 1-10, 11-20, 21-30. Pencatatan dibagi menjadi tiga golongan diharapkan kontrol ketinggian air Waduk Pacal selalu diperhatikan sehingga tetap dapat memenuhi kebutuhan permintaan air.




Pada tahun 2000 permintaan kiriman air dari Waduk Pacal rata-rata 468.257 m³ setiap bulannya. Penurunan jumlah kiriman air disebabkan oleh Waduk Pacal telah mengalami pendangkalan dan penurunan daya tampung air. Pada tahun 1998 misalnya pada musim  penghujan yang terjadi bulan Nopember, Desember dan Januari, Waduk Pacal menampung keseluruhan air mencapai ± 35 juta m³ dalam bulan itu. Penurunan daya tampung air Waduk Pacal pada tahun 2000 pada saat yang sama bulan Nopember, Desember dan Januari mencapai ± 34,6 juta m³.


Untuk melihat jumlah air Waduk Pacal dilihat melalui garis ketinggian air waduk yang terletak di pintu keluar air sebelum bendungan. Selain itu terdapat peralatan untuk mengetahui jumlah curah hujan pada suatu daerah. Lokasi Waduk Pacal di  pasang peralatan itu sebanyak 2 buah. Peralatan untuk mengetahui curah hujan itu dinamakan dengan istilah takaran hujan Jumlah permintaan air Waduk Pacal harus disesuaikan dengan ketinggian permukaan air Waduk Pacal. Misalnya jika debit air Waduk Pacal sedikit, maka realisapermintaan kiriman air Waduk Pacal akan sedikit pula.

Refrensi Berbagai Sumber 
(Rouf/KIMTP)







Top